Bab III Pembahasan Hasil Observasi KS AnJal

Udah lama ga ngepost, kebanyakan cerita ditulis di Blog sebelah😀

Tuliskan kali ini, lebih kepada laporan tugas kampus hasil dari beberapa observasi yang sudah dilakukan. Seharusnya dipost beberapa bulan yang lalu..

Observasi tugas mata kuliah Kesejahteraan Sosial, berikut ini merupakan intisari dari tugas tersebut…

 

GAMBARAN PMKS “ANAK JALANAN”

Manusia adalah mahluk sosial, sekalipun manusia adalah individual tetapi pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup sendiri melainkan hidup dengan sesamanya (bermasyarakat). Dinamika kehidupan yang dialami manusia adalah bersifat flutuaktif dalam menghadapi berbagai masalah, terlepas dari masalah itu bersifat pribadi atau sifanya yang sosial.

Dewasa ini permasalahan sosial yang merebak cukup memprihatinkan, salah satunya adalah mengenai Anak Jalanan (Anjal). Tingginya jumlah pengangguran serta ledakan pendudukan miskin merupakan salah satu penyebab meningkatnya jumlah anak jalanan hal ini memiliki kompleksitas dari dampak yang akan ditimbulkan.

Sehubungan dengan itu, penyusun sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga yang sedang menempuh mata Kesejahteraan Sosial tertarik untuk mendalami dan membahas mengenai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) khususnya anak jalanan. Penyusun telah melakukan studi lapangan atau observasi dalam rangka mengetahui lebih jelas dan akurat mengenai permasalahan dari anak jalanan dan aspek-aspek yang terkait di dalamnya yang dilakukan pada salah satu jalan yang seringkali dijadikan tempat berkumpul anak jalanan tepatnya di daerah Pasteur dan sekitarnya untuk dilakukan observasi.

  1. A.    Lokasi

Permasalahan sosial yang hingga saat ini masih sangat ramai dikalangan masyarakat adalah hadirnya anak jalanan, masih banyak sekali ditemui anak-anak diperempatan jalan atau dipinggir jalan hanya untuk sekedar menjajakan makanan atau bahkan mengamen. Terutama di kota besar, anak-anak seperti ini akan sangat sering dijumpai di Jalan-jalan yang memang memiliki tingkat kesibukan, kepadatan yang cukup tinggi, diantaranya di kota Bandung yaitu Jalan Pasteur.

Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat terletak ditengah wilayah provinsi Jawa Barat sehingga memiliki nilai strategis terhadap kota-kota lain disekitarnya. Bandung dikenal sebagai kota terbesar ke empat di Indonesia, setelah Jakarta, Surabaya, Medan sementara di wilayah Jawa Barat, Bandung menempati posisi pertama kota terpadat. Pertumbuhan ekonomi kota Bandung dipengaruhi oleh sektor perdagangan dan jasa serta sektor industri berkembang. Hal tersebut menjadikan Kota ini menjadi salah satu kota yang memiliki puluhan pusat perbelanjaan modern dengan aneka atraksi wisata belanja seperti Istana Plaza (IP) yang berada di jalan Pasirkaliki, Paris Van Java di jalan sukajadi dan beberapa pusat perbelanjaan lainnya, untuk menyokong itu semua pemerintah memfasilitasinya dengan didirikannya beberapa infrastruktur yang menunjang salah satunya adalah akses jalan. Salah satu akses jalan yang sangat padat di Kota Bandung adalah Jalan Pasteur.

Secara geografis jalan Pasteur adalah lokasi atau tempat yang sangat strategis, merupakan jalan penghubung yang menjembatani antara Jalan Sukajadi, Jalan Pasir Kaliki dan Jalan Dokter Djudjunan. Letak jalan Pasteur sendiri yang memang berada ditengah-tengah perkotaan dan memiliki bahu jalan yang sangat luas menjadikan jalan ini memiliki tingkat mobilitas yang cukup padat bila dibandingkan dengan jalan-jalan lain. Selain itu, pada jalan ini terdapat empat trafic light atau lalu lintas yang mana difungsikan untuk masing-masing jalan (perempatan) yang secara tidak langsung dijadikan lahan mencari nafkah oleh sebagian orang dalam menjalani kegiatan ekonominya seperti: penjaja koran, pengemis, pengamen, penjual buah-buahan.

B.     Anak Jalanan Pasteur

Anak jalanan adalah mata rantai dari premanisme. Jika mata rantai ini tidak diputuskan sedari dini, maka premanisme akan tumbuh dengan subur dan akan mengancam kelangsungan masa depan bangsa. Oleh karena itu anak jalanan adalah salah satu generasi yang akan turut menentukan nasib masa depan bangsa dan harus diselamatkan. Terutama di kota besar permasalahan ini sangat sukar untuk diselesaikan, di kota Bandung khsusnya jalan Pasteur karakteristik anak jalanan yang sering “mangkal” atau sering dijumpai adalah anak-anak yang memiliki rentang usia sekitar enam sampai 19 tahun bahkan dijumpai pula orang-orang dewasa dengan usia sekitar 22 sampai 30 tahun yang memang menggantungkan kehidupannya di jalan Pasteur ini. Diantaranya ada yang masih duduk di salah satu sekolah dasar atau sekolah menengah pertama namun mayoritas tidak bersekolah dan hanya lulus sekolah dasar saja. Kebanyakan dari anak jalanan ini masih berasal dari kota Bandung, bermukim disalah satu jalan yang tidak jauh dengan lokasi jalan Pasteur diantaranya ada yang berasal dari Jalan Cibarengkok, Jalan Sukamaju atau lebih jauhnya lagi ada yang berasal dari jalan Baladewa. Kegiatan yang sering dilakukan oleh para anak jalanan ini adalah menjajakan makanan, berjualan koran, mengamen dan topeng monyet dengan kuantitas yang waktu yang dihabiskan selama dijalan kurang lebih lima sampai enam jam dengan flexibelitas waktu yang tidak tentu.

C.    Kondisi Kesejahteraan

Perbedaan kelas sosial yang berada didalam masyarakat merupakan hal yang lumrah, begitu pun halnya dengan ini. Jalan Pasteur yang secara geografis sangat strategis menghubungkan beberapa tempat-tempat hiburan atau wisata di Kota Bandung yang secara ekonomi berdampak besar pula pada perekonomian wilayah tidak menjadikan tempat ini dapat menjamin kesejahteraan warga atau masyarakat sekitarnya. Terbukti bahwa mayoritas anak jalanan atau orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dijalan ini kebanyakan berasal dari tempat-tempat sekitar jalan Pasteur.

Sebagian besar anak jalanan kota Bandung harus bekerja dengan cara mengamen, mengemis, menjual koran, dagangan asongan dan jenis pekerjaan lainnya yang semuanya dilakukan di jalan-jalan. Adapun hasil anak dari turun ke jalan ini, untuk mendapatkan penghasilan berupa uang guna memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, seperti uang jajan sekolah atau uang untuk makan bahkan membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari pengamatan dilapangan bahwa penyebab anak-anak harus bekerja di jalanan adalah ketidak mampuan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.     

 

Hasil Observasi

Merebaknya jumlah pengangguran serta makin tinggi jumlah penduduk miskin merupakan salah satu penyebab meningkatnya masalah-masalah sosial. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada, sumber masalah sosial yaitu proses sosial itu sendiri dan bencana alam yang terjadi. Meningkatknya masalah-masalah sosial mengakibatkan semakin tingginya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial dan salah satunya adalah anak jalanan.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung yang telah dilakukan pada salah satu jalan di kota Bandung yang memiliki tingkat mobilitas dan kepadatan yang cukup tinggi yakni jalan Pasteur  maka diperoleh gambaran sebagai berikut:

A.    Sumber Data

Data yang kami dapatkan berasal dari wawancara dengan anak jalanan mulai usia 15-19 tahun Pada tanggal 28 Maret, 04 April dan 11 April 2013.

1. Sumber data ke- 1 “PANDI”

Anak laki-laki berusia 10 tahun merupakan siswa kelas enam Sekolah Dasar Nuginasari, alamat rumah di jalan Cibarengkok. Alasan turun ke jalan atau menjadi anak jalanan adalah ingin membantu orang tua dan membiayai keperluan sekolah. Berasal dari keluarga divorce yang mana ayah dan ibu sudah menikah lagi.

2. Sumber data ke- 2 “LUSI”

Lusi adalah remaja puteri dengan kisaran usia enam belas tahun, status sudah menikah dan merupakan kakak ipar Pandi, riwayat pendidikan hanya tamat sekolah menegah dasar. Mengontrak di Jalan Baladewa dan turun ke jalan untuk menemani suami yang bekerja sebagai “pendoger” atau topeng monyet.

3. Sumber data ke- 3 “AGUS”

Agus merupakan salah satu siswa kelas 6 di Sekolah Dasar Pasir Kaliki 136, anak laki-laki berusia 14 tahun ini adalah kakak tiri dari Pandi yang sama-sama bertempat tinggal di jalan Cibarengkok. Faktor lingkungan dan ajakan teman menjadi alasan Agus turun ke jalan, aktivitas yang dilakukannya di jalan yakni mengamen dan berkumpu dengan teman sebayanya. Sebagian besar hasil yang didapat dari mengamen itu, diberikan kepada ibunya

4. Sumber data ke- 6 “YUDI”

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini sudah 13 tahun menghabiskan sebagian waktunya untuk turun ke jalan. Beralamat di  Gg. Haji Junaedi-Sukajadi bersama orang tua yakni ayah (ibu sudah meninggal), dan satu kakak yang belum berkeluarga. Anak laki-laki berusia 19 tahun ini menyelesaikan jenjang pendidikannya pada kelas dua Sekolah Dasar, dengan alasan ingin bekerja untuk membantu penghasian orang tua. Kegiatan yang diakukannya selama di jalan yakni sebagai penjual asongan, dan mengamen. Akan tetapi karena penghasilan yang didapatnya masih belum mencukupi, Yudi pun beralih pekerjaan menjadi seorang pendoger monyet dengan penghasilan maksimal Rp. 200.000 per hari. Monyet yang digunakannya sendiri merupakan hasil sewaan, yang dimana setiap harinya Yudi harus membayar Rp. 60.000.

5. Sumber data ke- 4 “DHON”

Kondisi ekonomi yang kurang memadai menjadi alasan utama Dhon turun ke jalan, pria berusia 26 tahun ini beralamat di Cibarengkok dengan istri dan dua anaknya. Aktivitasnya di jalan yakni mengamen, dengan sesekali menjadi penjual asongan. Turun ke jalan merupakan kerja sampingan apabila tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukannya untuk menafkahi keluarga. Penghasilan yang didapat per hari dari hasil mengamen hanya cukup untuk kebutuhan pokok keluarga seperti makan dan membayar kontrakan. Anak pertama dari dua bersaudara ini masih memiliki orang tua yang lengkap, tetapi Dhon tidak hidup bersama kedua orang tuanya karena sudah berkeluarga.

6. Sumber data ke- 5 “KINOY”

Pria berusia 24 tahun yang beralamat di Citepus blok Muncang ini memilih turun ke jalan sebagai pekerjaan sampingan yang dilakukannya untuk menafkahi istri dan satu anaknya. Sama halnya dengan Dhon, aktivitas yang dikerjakannya selama di jalan yakni mengamen dan menjadi pedagang asongan. Turun ke jalan merupakan aktivitas yang sudah dijalaninya selama tujuh tahun, hasil yang didapat dari mengamen dan menjadi penjual asongan selama tiga kali seminggu itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

7. Sumber data ke- 7 “SYANDI”

Syandi merupakan anak laki-laki berusia 15 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan. Walaupun masih memiliki orang tua yang lengkap dan keluarga yang utuh, anak ke empat dari enam bersaudara ini bukan hanya memilih jalan sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan karena selain itu Syandi pun seringkali tidur di jalan dan jarang pulang ke tempat tinggalnya yakni di Cibarengkok. Karena faktor lingkungan dan dorongan dari dalam diri sendiri, anak laki-laki yang menempuh pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar ini mempunyai kebiasaan ngelem yakni menghirup salah satu jenis lem dengan tujuan membuat pikirannya lebih tenang.

B.     Analisis Data

Umumnya anak jalanan memiliki latar belakang yang sangat kompleks dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Berdasarkan sumber data yang sudah diperoleh memberikan gambaran bahwa mayoritas sumber permasalahan atau alasan mengapa anak-anak tersebut turun ke jalan adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Faktor-Faktor Atau Latar Belakang

Penyebab yang melatarbelakangi anak untuk berada dijalan, disimpulkan bahwa ada dua faktor utama anak yang sering berada dijalan atau perempatan Pasteur meliputi faktor ekstern dan faktor intern.

  1. Faktor ekstern

Faktor eksternal ini merupakan hal-hal penyebab diluar dirinya sendiri dalam hal ini khususnya anak jalanan yang seringkali dijumpai di jalan-jalan, perempatan pasteur, meliputi:

1)      Kemiskinan

Mayoritas sumber atau responden anak jalanan berasal dari keluarga miskin, keadaan dimana baik keluarga atau dirinya sendiri tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, pendidikan dan kesehatan. Setelah ditelisik lebih dalam faktor kemiskinan yang ditemukan disebagian besar anak jalanan disebabkan oleh sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

2)      Lapangan pekerjaan

Telah dibahas sebelumnya, bahwa salah satu faktor ekstern penyebab dari anak jalanan pasteur adalah kemiskinan yang dilatar belakangi salah satunya oleh kurangnya lapangan pekerjaan. Ketidakseimbangan antara lapangan kerja dengan usia produktif menjadikan orang-orang lebih berkompetetif dalam mencari pekerjaan, namun sayang untuk sebagian orang yang memiliki pendidikan dan keterampilan yang rendah tak mampu bersaing bahkan terlindas oleh mereka-mereka yang memiliki “modal” (pendidikan atau materi) yang mengakibatkan banyak pengangguran-pengangguran yang menggantungkan nasibnya dijalanan. Menurut beberapa sumber yang telah kami wawancarai disebutkan bahwa banyaknya usia produktif yang turun ke jalan diakibatkan oleh kepadatan penduduk yang kian hari makin bertambah maka bertambah banyak pula penggangguran, lapangan pekerjaan yang terbatas, pendidikan yang rendah mayoritas anak jalanan pasteur hanya mengecap pendidikan sekolah dasar, kalau pun ada yang pernah bekerja sebelumnya namun bertahan sebentar karena perusahaan-perusahaan sekarang menerapkan sistem outsourcing atau sistem kontrak.

3)      Kesenjangan sosial

Dijumpai dari beberapa rumah sumber anak jalanan memiliki letak rumah yang berdekatan dengan rumah-rumah yang sangat mewah. Seperti rumah anak jalanan di Baladewa, hanya beberapa meter dari jarak rumahnya terdapat komplek perumahan yang cukup mewah bila dibandingkan dengan rumah-rumah yang berada disekitarnya. Hal ini menjadikan kesenjangan sosial diantara masyarakat khususnya bagi anak-anak jalanan yang tinggal disana. Selain itu tidak terjalinnya hubungan yang baik antara tetangga satu dengan yang lainnya menjadikan ketidakseimbangan ini semakin mencolok.

4)      Lingkungan pergaulan

Dalam hal ini lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan teman sebaya, ada beberapa anak jalanan yang menuturkan alasannya  menjadi anak jalanan adalah karena ikut-ikutan saja dengan teman.

2. Faktor intern

     Dari pengamatan dilapangan bahwa penyebab anak-anak harus bekerja dijalanan adalah ketidak mampuan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan mereka (kemiskinan). Pendorong anak turun ke jalan dilihat dari segi faktor intern adalah keinginan anak itu sendiri, baik karena prihatin terhadap kondisi kehidupan orang tua dan keluarganya ataupun karena ingin mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi keinginannya.

3.  Karakteristik Anak Jalanan Pasteur

Sebagaimana telah disebutkan pada bab dua khususnya pada kajian pustaka telah disebutkan  dan berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara garis besarnya anak yang sering dijumpai di jalan-jalan atau perempatan Pasteur memiliki karakteristik sebagai berikut:

No.

Faktor                 Pembeda

Hidup Di jalanan

Bekerja Di jalanan

Rentan   Menjadi anak Jalanan

1

Lama di jalanan

24 jam

7-12 jam

4-6 jam

2

Hubungan

Dengan keluarga

Putus

hubungan

Tidak teratur pulang ke rumah

Masih tinggal

dengan orang tua

3

Tempat tinggal

Di jalanan

Mengontrak  (bersama-sama)

Bersama keluarga

4

Pendidikan

Tidak sekolah

Tidak sekolah

Masih sekolah

 

Tabel diatas menunjukkan bahwa anak yang hidup dijalan merupakan kelompok yang berisiko tinggi terhadap berbagai bahaya dibandingkan kelompok lain. Tabel tersebut mencoba membandingkan antara anak jalanan yang memang tinggal atau kehidupannya berada dijalan dengan anak yang turun ke jalan hanya untuk mencari nafkah saja dengan rentangan waktu dijalan tidak lebih dari 24 jam dan anak jalanan yang terkadang ada dijalanan.

Penghasilan anak jalanan di jalan Pasteur rata-rata setiap harinya Rp. 20.000 sampai dengan 100.000 dengan rentang waktu empat sampai delapan jam per hari antara jam 13.00 sampai jam 20.00. kegiatan turun ke jalan ini dilakukan siang hari sampai malam, karena waktu pagi dimanfaatkan untuk sekolah dan bermain. Kegiatan mengamen di jalanan hanya sebagian kecil yang mendapatkan uang sampai Rp. 50.000. namun untuk penghasilan dari kegiatan topeng monyet atau “mendoger” dapat menghasilkan pendapat sampai 100.000 satu hari.

Anak jalanan yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah anak jalanan yang berjenis kelamin perempuan     

4. Problematika Anak Jalanan Pasteur

Keberadaan anak jalanan berkaitan langsung dengan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak yang meliputi kebutuhan fisik, psikis, sosial dan spritual. Problematika ini berhubungan dengna masalah-masalah yang disandang anak jalanan ketika berada dijalan. Khususnya dalam hal ini adalah anak jalanan Pasteur masalah-masalah tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok masalah besar yaitu permasalahan yang dihadapi dan permasalahan yang ditimbulkan, dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Permasalahan yang dihadapi, meliputi: berkelahi dengan sesama anak jalanan, terlibat tindak kriminal, kekerasan seksual, rawan kecelakaan lalu lintas, rawan pemakai atau pengedaran obat-obat terlarang/narkoba, dirazia, perkembangan kejiwaan kurang baik, cenderung ditolak masyarakat, rawan tertular penyakit
  2. Permasalahan yang ditimbulkan, meliputi: menganggu ketertiban umum, mengotori keindahan kota, menimbulkan citra buruk

Untuk memperoleh gambaran mengenai dampak dari kondisi anak jalanan Pasteur ini, berikut diuraikan beberapa dampak yang dirasakan oleh meliputi aspek kebutuhan dasar, kesehatan, partisipasi sekolah, sosial, mental dan spritual sebagai berikut:

a. Pemenuhan kebutuhan dasar

Anak jalanan pasteur tidak mampu memenuhi kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak dan manusiawi. Pada umumnya mereka makan dua kali sehari dengan menu yang seadanya. Selanjutnya, dilihat dari pemenuhan kebutuhan pakaian pada umumnya anak jalan ini hanya memiliki beberapa stel baju dan dua sampai tiga hari baru diganti. Pakaian hariannya tampak lusuh, kumal dan tidak terawat. Kemudian dari segi kebutuhan tempat tinggal sebagian dari anak-anak jalanan pasteur menempati rumah semi permanen dan sebagian mengontrak tinggal dilingkungan permukiman padat yang sangat tidak layak.

b. Kondisi kesehatan

Kegiatan yang dilakukan anak jalanan pasteur selama dijalan sangat akrab dengan polusi udara. Beberapa penyakit yang sering dikeluhkan diantaranya adalah penyakit kulit (gatal), panas, influenza, masuk angin.  Kondisi kesehatan ini dapat dilihat dari dua aspek meliputi kesehatan fisik dan kesehatan psikis yang nampak dari penampilan anak-anak jalan seperti berikut:

1)      Ciri fisik: warna kulit kusam, rambut kemerahan, kebanyakan berbadan kurus, pakaian tidak terurus

2)      Ciri psikis: mobilitas tinggi, acuh tak acuh, penuh curiga, sangat sensistif berwatak keras, kreative, semangat hidup tinggi, berani tanggung resiko, mandiri

 c. Partisipasi sekolah

Kemiskinan orangtua, menyebabkan anak-anak jalanan ini tidak mampu mengakses pelayanan pendidikan meskipun baru-baru ini pemerintah menggratiskan biaya pendidikan namun belum juga dirasakan dampaknya.

d. Kondisi mental, sosial dan spritual

Hubungan sosial antara anak jalanan dengan orangtua dengan lingkungan dan masyarakat, membentuk sikap mental dan spiritual anak jalanan yang sering tidak sesuai dan bahkan bertentangan atau melanggar norma agama, sosial dan hukum yang berlaku. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan hubungan anak dengan orangtua umumnya baik, sebagian besar kembali ke orangtua setelah melakukan aktivitas dijalanan bahkan salah satu diantaranya alasan untuk menjadi anak jalanan adalah untuk membantu orangtua. Orangtua anak jalanann mengetahui kegiatan anaknya diluar rumah. Pada umumnya mereka memberikan dukungan terhadap anaknya, sebagian besar menuturkan bahwa orangtua mereka sering berpesan agar hati-hati dijalanan dan pulang tepat waktu. Meskipun demikian, sebagian anak jalanan mengalami tekanan psikis akibat perlakuan dari orang dewasa lain. Seperti mendapatkan tindakan kekerasan, tak jarang adanya pemerasaan oleh oknum tertentu. Pemerasan ini dilakukan oleh salah seorang satpam restoran yang letaknya tak berada jauh dilokasi jalan Pasteur. Kisaran uang yang sering diminta tidak menentu.

5. Harapan anak jalanan

Dari observasi ini didapatkan bahwa anak pada dasarnya ingin diakui eksistensinya, dapat mengisi hidupnya dengan wajar, dapat mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi dan dapat mendapatkan penyaluran bakat dan keterampilan sesuai dengan bakatnya. Seperti yang telah dituturkan oleh salah satu narasumber yang menyebutkan bahwa ingin mewujudkan cita-cita menjadi polisi atau penyanyi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s